MANFAAT BERPUASA BAGI KEHIDUPAN SOSIAL

Artikel ini membahas manfaat puasa ditinjau dari aspek kehidupan sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi tetapi juga kesalehan sosial.

Sebulan penuh umat Islam melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, berbagai tradisi mengiringi pelaksanaan nya dimulai dari tradisi menyambut bulan Ramadhan yang dikenal dengan munggahan. Secara bahasa berarti bersiap untuk naik (unggah dalam bahsa sunda berarti naik). Hal ini dikarenakan bulan puasa ialah momentum untuk menaikan level diri menjadi seorang muttaqien. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan penuh kasih sayang dimana orang-orang berlomba untuk mendermakan hartanya, menolong sesama. Pernahkah kamu memperhatikan para dermawan ketika menyantuni anak yatim? Atau mungkin diantara kita ada yang pernah melakukannya? Mengapa ketika seseorang memberi sesuatu kepada orang lain ada perasaan gembira, ceria, rasa senang terpancar diwajahnya?
Pakar Neurosains, Prof. Taruna Ikrar mengatakan bahwa bahagianya seseorang berkaitan dengan hormon yang dikeluarkan oleh tubuh kita. Apa itu hormon kebahagiaan? Sesuai namanya, hormon tersebutlah yang bertanggungjawab untuk membuat seseorang merasa bahagia, senang, dan bersemangat bila ia hadir di tubuh kita. Endorphine namanya.
Nah, ketika kita melakukan kegiatan yang bersifat sosial seperti sedekah, charity, bakti sosial ataupun yang lainnya. Ternyata aktivitas sosial tersebut merangsang tubuh kita untuk memproduksi hormon endorphine. Seketika itu kebahagian terpancar di wajah mereka. menyebar lalu beberapa organ
Inilah nilai lebih dari aktivitas-aktivitas sosial. Tak mengherankan jika agama Islam begitu menekankan agar umatnya untuk rajin berinfaq, shodaqoh, zakat dan lainnya.
Salah satu semangat yang terkandung dalam puasa ialah semangat sosial. Tak heran jika di bulan ramadhan kita banyak mendapati orang-orang berbagi rizki. Baik dalam bentuk makanan maupun yang lainnya. Inilah manfaat aspek sosial dari puasa ramadhan, rekatnya solidaritas sesama umat Islam.
Puasa dan Solidaritas Sosial
Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Puasa Ramadhan yang dilakukan satu kali dalam setahun ini begitu mengagumkan. Kedatangannya disambut bahagia, dinantikan lalu kepergiannya banyak yang menangisi. Bak tamu, puasa Ramadhan adalah tamu agung yang telah lama dinantikan kehadirannya oleh segenap umat muslim di seluruh dunia.
Istimewanya puasa Ramadhan bersifat multidimensional, tidak hanya spiritual-individual, tetapi juga sosial. Puasa tidak hanya mendidik umat tentang kesalehan pribadi (spiritual, moral yang cenderung individual), tetapi sekaligus juga kesalehan sosial.
Kesalehan individual seseorang terlihat dari semangatnya dalam pencegahan dari hal-hal destruktif. Misalnya menahan haus, lapar dan perkara lainnya yang membatalkan puasa. Sekalipun hal tersebut adalah halal tetapi bagi yang sedang berpuasa tidak diperkenankan sampai waktu berbuka tiba. Semangat ini merupakan landasan bagi kesalehan individual sekaligus sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah swt. Orang yang bisa menjalankannya secara baik, Ia saleh/baik kepribadiannya, moral serta spiritualnya.
Mereka diajak untuk menahan keburukan akibat hawa nafsu. Menahan diri dari menggunjing, memfitnah, menyebarkan berita bohong. Al-Ghazali menyebut bahwa menahan diri dari sesuatu yang mengurangi nilai kemuliaan manusia.
Jika kita tarik semangat tersebut pada ranah sosial. Maka, kita juga mesti menahan lapar dan haus psikologis, tidak hanya lapar dan haus yang bersifat biologis. Ilyas Ismail membagi rasa lapar kedalam dua macam, yaitu lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis lekas sembuh dengan makan. Lapar psikologis, seperti lapar kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan (duniawi). Ini tidak mudah disembuhkan.
Seseorang yang puasanya semata-mata karena Allah ta'ala akan terbebas dari lapar psikologis, terbebas dari penyakit cinta dunia. Untuk selanjutnya lebih peduli dan sadar akan kepentingan orang lain (sosial). Itulah karakter takwa.
Selanjutnya, orang yang puasa disuruh banyak berbagi. Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Bulan pendidikan dan pelatihan yang sangat komprehensif, tidak sekedar kecerdasan emosional-spiritual melainkan kepekaan dan solidaritas sosial.
Penghujung bulan puasa, kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Kewajiban ini menyempurnakan dimensi sosial dari ibadah puasa. Sebab, tanpa zakat fitrah, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah, masih bergantung dan berputar-putar di atas langit. Hal ini berarti Allah swt tidak akan menerima amal ibadah dari seseorang yang hanya mengutamakan kepentingan individualnya saja, sekedar mensalehkan diri sendiri tetapi lalai terhadap kewajiban sosial.
Dari semangat puasa inilah, kita di latih dan di didik untuk menjadi the giver (sang pemberi), bukan peminta-minta (taker). Al-Qur'an sendiri telah memberikan tuntunan kepada siapa sajakah kita harus memberikan zakat. Ada delapan golongan yang berhak di santuni. Fakir, Miskin, Mualaf, Riqab (hamba sahaya), Gharim (orang yang memiliki banyak hutang), Fisabilillah (orang-orang yang berjuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (orang yang sedang menuntut Ilmu di perantauan), Amil/ panitia zakat (QS. At-Taubah: 60).
Mengapa harus kepada mereka? Islam menekankan aspek keadilan sosial dan ekonomi. Orang-orang yang disebutkan dalam delapan golongan tersebut ada yang masuk dalam kategori lemah secara ekonomi, yakni fakir dan miskin. Kemiskinan tentu bukan keinginannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya, sebagai orang yang memiliki kelebihan harta turut membantu, meringankan dan menguatkan semangat hidup mereka. Kelompok ini harus diprioritaskan. Selain itu, hamba sahaya serta orang-orang yang memiliki banyak hutang juga merupakan kelompok prioritas setelah fakir miskin.
Kategori kedua adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah, fisabilillah. Pemberian zakat kepada mereka karena kecintaannya terhadap agama Allah. Mereka yang siang dan malamnya tak lelah membumikan nilai-nilai ketuhanan. Mendidik dan mengajarkan ilmu agama.
Para fisabilillah dapat berupa organisasi syiar dakwah Islam di kota-kota besar, proyek pembangunan masjid, maupun syiar Islam di daerah terpencil.
Orang yang baru masuk islam (mualaf) juga termasuk orang yang berhak menerima zakat untuk mendukung penguatan iman dan takwa mereka dalam memeluk agama Islam. Zakat yang diberikan kepada mereka memiliki peran sosial sebagai alat untuk mempererat persaudaraan sesama muslim. Sementara itu, amil atau pengelola zakat adalah kelompok terakhir yang berhak menerima zakat apabila tujuh kelompok lainnya sudah mendapatkan. Inilah pembelajaran dalam bulan Ramadhan yang secara khusus ditujukan kepada orang beriman (Yons Ahmad/zakat.or.id).
Semoga dengan sebulan puasa ini semakin mengeratkan tali persaudaraan sesama muslim-muslimat. Cerdas spiritual, moral dan sosial. Menutup Ramadhan dengan berbagi kegembiraan. "Sesungguhnya ibadah puasa tidak hanya untuk kesalehan spiritual yang cenderung individual tetapi juga untuk keadilan sosial dan ekonomi". Semoga kita tergolong kedalam kelompok muttaqien. Aamiin
Demikian artikel tentang manfaat berpuasa bagi kehidupan sosial. Untuk artikel lainnya bisa temen-temen baca di sini

Posting Komentar